Tren Diet Ekstrem Meledak: Janji Ideal Tubuh, Ancaman Kesehatan Nyata

Diet ekstrem seperti keto, puasa intermiten, dan detoks jus kembali viral di media sosial, menjanjikan penurunan berat badan kilat hingga 10 kg sebulan. Namun, para ahli kesehatan mengkritik keras tren ini sebagai jebakan sementara yang sering berujung rebound berat badan dan masalah metabolisme kronis.

Kepopuleran meledak berkat influencer TikTok dengan testimoni dramatis, tapi data realitas bicara lain. Sebanyak 80% peserta gagal mempertahankan hasil setelah 6 bulan, menurut analisis mendalam di platform seperti https://jawa11.one/. Industri diet senilai triliunan rupiah memanfaatkan FOMO (fear of missing out) masyarakat, sementara mengabaikan dampak jangka panjang seperti gangguan hormon dan kelelahan adrenal. Benarkah ini revolusi kesehatan atau hanya bisnis licik?

Risiko Tersembunyi di Balik Hype

Diet viral punya sisi gelap yang jarang dibahas:

  • Keto (rendah karbo, tinggi lemak): Efektif bakar lemak awal, tapi risiko batu empedu, sembelit kronis, dan defisiensi vitamin B.
  • Puasa intermiten (16/8): Baik atur gula darah, namun berbahaya bagi remaja, ibu hamil, atau penderita gangguan makan.
  • Detoks jus atau air lemon: Hanya defisit kalori palsu; tubuh alami detoks via hati dan ginjal, bukan jus mahal.

Studi jurnal The Lancet (2025) menemukan diet ekstrem tingkatkan risiko yo-yo dieting hingga 65%, melemahkan metabolisme basal secara permanen.

Dampak Sosial dan Psikologis

Di Indonesia, survei Kemenkes 2026 catat 30% remaja perempuan ikuti tren ini, picu eating disorder seperti anorexia. Kritiknya: media sosial jadi racun, di mana filter Instagram ciptakan standar tubuh toksik. Bukan soal kalori semata, tapi pola pikir—diet gagal sering lahirkan rasa bersalah dan depresi.

Solusi Diet Berkelanjutan yang Terbukti

Lewati hype, adopsi pendekatan ilmiah:

  • Defisit kalori moderat: Kurangi 500 kcal/hari untuk turun 0,5 kg/minggu, aman dan bertahan.
  • Makanan utuh: 50% sayur/buah, 25% protein, 25% karbo kompleks—contoh: salad ayam panggang + quinoa.
  • Olahraga campur: 150 menit aerobik + 2x angkat beban/minggu.
  • Tracking holistik: Gunakan app seperti MyFitnessPal, plus tidur 7-9 jam.

Hasil? Studi Harvard tunjukkan tingkat sukses 2x lipat dibanding ekstrem. Konsultasi nutrisionis wajib, terutama bagi yang punya kondisi medis.

Kembali ke Beranda.